Aku menatap wajahmu melalui figura cantik yang entah sudah berapa lama ku tatap. Tak pernah bosan untuk melihat wajahmu. Wajah yang menampakkan kebahagiaan. Aku merindukanmu, sungguh! Sebelumnya, aku tak berniat untuk melakukan itu. Maafkan aku, karena aku sekarang atau mungkin sampai selamanya kau tak akan pernah bisa kembali. Maaf adalah satu kata yang akan terus kuucapkan kepadamu.
Air mataku jatuh melalui kedua mataku untuk kesekian kalinya. Sungguh sesak rasanya dada ini. Pikiranku melayang, mengenang masa masa dulu. Ya! Aku menangis. Mungin dari sana kau melihat diriku yang cengeng ini. Tapi aku menangis seperti ini adalah karena mu. Saat kepergianmu, pribadiku berubah menjadi seperti ini. Pemurung, cengeng, dan penyendiri. Aku tak sanggup untuk melihat keluar.
Hati ini selalu memanggil manggil namamu.
Aku ingin kau kembali.
Aku ingin kau berada disini, bersamaku.
Maaf, maaf, dan maaf.
Ucapan maafku pun sepertinya tak akan bisa kau terima. Walau seperti itu, aku akan terus meminta maaf padamu. Meskipun aku harus melakukannya ribuan kali.
Aku menghapus jejak air mataku. Tetapi, air mata ini tetap mengalir deras menjadi sungai di wajahku. Aku berjalan menuju cermin yang berada di ujung kamar ini. Aku melihat pantulan diriku dari cermin. Jika orang melihat kondisiku, mereka pasti akan berpikir aku adalah orang yang menyedihkan. Lihat saja penampilanku ini, sungguh berantakan! Seketika, aku tertawa. Aku menertawakan diriku sendiri. Miris benar hidupku ini.
Kembalilah...
Aku mohon...
Aku minta maaf...
Aku menyesal..
Air mataku belum berhenti mengalir. Bayangan dirimu ada di dalam memori otakku. Seperti sebuah film yang berputar, aku mengingatmu. Aku benar benar tak bisa melupakanmu. Aku berharap ada sebuah mesin waktu yang bisa membawaku ke masa lalu, dimana hari pertama kita bertemu. Aku ingin merubah ini semua. Tapi sayangnya, ini tak akan pernah bisa terjadi. Ini adalah kejadian yang nyata!
Ku dudukkan diriku dilantai sambil menatap langit langit kamar. Terlintas beberapa pertanyaan yang muncul di otakku.
Apa aku bisa melanjutkan hidup ini seorang diri?
Apa aku tak bisa berharap lagi?
Apa aku bisa menjadi diriu seperti semula?
Ku helakan nafas dan lagi, aku menangis.
-other side Point of View-
Aku menatap dirimu yang masih menangis. Kamu tidak salah, disini akulah yang bersalah. akulah pihak jahat, bukan kamu. Maafkan aku, aku tak bisa menemanimu lagi. Aku juga menginginkan hal yang sama sepertimu, menginginkan kejadiaan ini tak pernah terjadi, menginginkan kembali seperti awal
Bersama dirimu..
Kita membuat sejarah baru..
Bersama sama selalu..
Air mataku menetes melihat dirimu yang terlihat menyedihkan sekarang. Selalu menatap fotoku, memeluknya, dan menangis kembali. Kau harus bangkit, jangan seperti ini. Keluar dan tunjukkan dirimu pada dunia! Jika kau masih seperti ini, aku tak sanggup untuk meninggalkanmu sendiri. Aku menatapmu yang masih berada di dalam kesedihan.
Aku mendekatimu, memelukmu dan berbisik sesuatu, "Aku harus pergi sekarang, jaga dirimu baik baik. Jangan seperti ini lagi". Aku melepas pelukanku. Aku tahu kau mendengar suaraku tadi dan sekarang kau sedang mencari sumber suara tadi, suaraku. Sayangnya, aku tak bisa terlihat olehmu. Maafkan aku, aku harus pergi. Ku terbang ke atas, aku masih bisa mendengar suaramu. Kau memanggil manggil namaku dengan suara bergetar. Jika seperti ini, aku semakin tak sanggup untuk meninggalkanmu, tetapi aku harus pergi. Selamat Tinggal. Semoga kita bertemu nantinya.
-YandWsarang-
-KYR-
-END-

No comments:
Post a Comment